Harga Sebuah ‘Calon Sampah’
Jujur, saia terkejut ketika ditagih untuk membayar ‘En*rgen’ yang semula harganya hanya Rp1300 saja, menjadi Rp1600, saia bertanya-tanya, kenapa harganya jadi melambung begini? akhirnya, saia menyadari sesuatu.. ketika mengingat kembali tawaran ibu kantin tadi, “Mbak, minum sini ato dibungkus?” akhirnya saia tersadar, kalau ‘bungkus’ yang dimaksud tadi merupakan gelas plastik. Saia pun dikenakan biaya tambahan sebesar Rp300.
Antara keki dan jengkel, saia pun membayar minuman yang saia pesan tadi. Padahal, perkiraan awal, bungkus yang dipakai penjual tadi seperti bungkus-bungkus sebelumnya (Baca: Kantung Plastik). Eh,, ternyata dugaan meleset jauh! Yah, saia paham betul, mungkin ini salah satu usaha supaya ‘pembungkus favorit’ tadi bisa tergusur. Minimal, biar tidak membuat halaman sekolah semakin kotor, maklum, sekolah Adhiwiyata gitu lo! Tapi, sekali lagi, hipotesis itu tidak benar! karena, mayoritas anak muda jaman sekarang -termasuk saia- sangat tidak hobi mengoleksi ‘gelas’ yang dimaksudkan agar wadah tersebut bisa dipakai berulang kali sehingga menggalakkan kampanye ‘Reduce-Reuse-Recycle’. Memang, keberadaan gelas dapat disinyalir merendahkan produksi sampah karena pemakaiannya tidak untuk ’sekali pakai’ seperti kantung plastik pada umumnya.
Namun sekali lagi, hal ini tidak efektif…gelas plastik ya tetap gelas plastik, setelah minuman ditenggak habis ya dibuang! berbeda lagi jika gelas tadi terbuat dari porselin atau kaca seperti punya Mak dirumah. Tentu aja saia tidak tega untuk membuangnya….mengingat wajah Mak saia pasti serem banget ketika tahu saia ‘Buang GELAS-PORSELEN Sembarangan!’ Hiiiy…Ampuuuun, Mak!Hehehe….
Eheeem…kembali lagi ke topik..
Sekarang, mari kita bayangkan saja, jika dalam sehari, per anak mengonsumsi 3 gelas minuman, artinya, mereka sudah berhasil memproduksi sampah dengan biaya hampir Rp1000 bukan! Lha per gelasnya saja berharga Rp300. Berarti, tidak ada tujuan konkret dari ‘metamorfosis’ Kantung Plastik menjadi Gelas plastik seperti itu! Ujung-ujungnya juga jadi sampah! Lha ini, pakai mbayar lagi..
Jadi, saia rasa, pembuatan regulasi yang ketat disertai sanksi tegas saja cukup untuk mengontrol produksi sampah di lingkungan sekolah. Bukan dengan membebani siswa dengan ‘Praktik-Penjualan-Es-Dengan-Gelas-Plastik’seperti tadi.. Bukankah, uang saku siswa tidak sampai berjuta-juta seperti para babe yang doyan korupsi disana? Sangatlah tidak wajar adanya hal semacam itu disekolah. Hal ini bisa dikategorikan pemerasan tingkat menengah, karena, pada kenyataannya, penjual tidak mengonfirmasikan terlebih dulu adanya ‘biaya tambahan’ tadi! Lha bagaimana nasib siswa yang uang sakunya pas-pasan dan tetap nekat beli jajan?
Utang lah solusinya, karena, meski diminum ditempat, hal ini tidak menyelesaikan masalah karena gelas-properti penjual yang disediakan juga terbatas.
“Selak ngelak, rek! Ngombe wae kok ngantri!” Hehehe….
Saia semakin membulatkan tekad untuk tetap membawa minuman pribadi kesekolah..selain bermutu, hemat juga anti-ngantri…
Disamping itu, tujuan utama saia adalah terhindar dari tagihan, “Mbak, tolong ganti biaya piringnya..sejuta!” hanya karena piring tadi terbuat dari emas 24k!
Capeeek de!!

Sip…analisa yang bagus…kritis dan berbobot. Moga2 pihak sekolah kamu baca posting kamu ini, dan melarang penggunaan gelas plastik dan kembali ke kantong plastik yang lebih murah…
Ayo…aku dukung kamu Shei..go..go…go!!!
Comment by Rystiono — 12 December 2007 @ 12:58 am
@ Bang Rys: hehehe…biasa, namanya juga Orang mangkel..pasti adaaaaa aja caranya meluapkan Emosi…pokoknya saia benar2 gak terima sama ‘Pemerasan’ tadi!
Haduuuuh….
yah, semoga tidak ada kata
‘Plastik’ lagi…. Jadi, tiap anak di wajibkan membawa Gelas dan properti makan dari rumah…asyik kahn, gak memproduksi sampah!
Comment by Administrator — 12 December 2007 @ 5:09 am
Lucu juga kalo bawa gelas sendiri…
Gak sekalian aja bekal sama minumannya… *jadi anak TK donk???*
Gak apa-apa…asal nggak nyampah…
Mending juga nyampah di blognya Shei…hehehhehe…
*kabur liat Shei bawa golok…*
Comment by Rystiono — 13 December 2007 @ 4:09 pm
Eh, Bang Rys, shei kahn emang gitu..hehehe, bawa apa-apa dari rumah, (Properti milik pribadi)secara….aktivis lingkungan gitu loh! (Pembantu_pak_Bon_sejati_mode_on)
Hehehe,
oopz…hampir aja lupa…
BANZAI!!!!
KEJAR TUKANG NYAMPAH DIBLOG!!!
=))
Wkekekeke
Comment by Administrator — 15 December 2007 @ 8:26 am
Kenapa harus minuman saja yang dibawa sendiri? sekalian aja bawa nasi kotak atau nasi yang dibungkus dari rumah.. Toh nanti gak susah-susah beli di sekolah.
Comment by Anas — 19 December 2007 @ 2:42 am
@ Anas…
Saia emang suka bawa nasi dari rumah, kalo gak sempet sarapan, gini, gak sempet juga nyiapin dari rumah, sapa yang masak?
Wong brangkatnya aja jam 6…
MAma saia males masak page2..heheh,
terpaksa deh….
tapi sarapan dirumah, karena skulnya fulde, jadi maksi (makan siangnya) diskul deh, sarapan ajah dirumah..
Comment by Administrator — 20 December 2007 @ 4:47 am